Entries Tagged 'Sosial' ↓

Dulu, Ilmu Pengetahuan Mendekatkan Diri Kita Kepada Tuhan. Sekarang?

Pada zaman dahulu kala (abad pertengahan hingga awal abad modern), para ilmuwan besar dunia berhasil menemukan fenomena-fenomena ilmiah di alam semesta ini, menganalisisnya, dan berhasil menjadikannya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat pada saat tersebut antara lain dan yang utama adalah tentang astronomi, fisika, kedokteran, kimia, dan biologi (ilmu-ilmu sosial juga banyak berkembang, tapi itu tidak masuk pembahasan tulisan ini).

Dari fenomena-fenomena ilmiah tersebut, para ilmuwan telah membuktikan adanya sebuah kekuatan besar yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini dengan sangat sempurna dan teliti. Hasil ilmu pengetahuan dan teknologi itu pun membuat para ilmuwan dan semua yang mempelajari ilmu pengetahuan menjadi lebih dekat kepada Tuhan mereka. Atau bisa juga logikanya dibalik, orang-orang yang dekat dengan Tuhan mereka ingin mengenal Tuhan mereka lebih dekat, sehingga mereka mendekatinya lewat makhluk-makhluk ciptaan-Nya: alam semesta beserta isinya ini. Continue reading →

(Un)Happy Valentine, Sweetheart!

Ehm, 14 Februari ya? Seolah dikomando, semua media, pusat perbelanjaan, anak-anak muda, bahkan juga orang tua pada ngerayain yang namanya Hari Valentine.. Hmm, merayakan Vale,,ntine? Emangnya Valentine itu hari raya? Kok pake diraya-rayain segala? Padahal rasanya kita udah sama-sama tahu gimana sejarahnya hari valentine, ya nggak sih? Gw ga usah cerita lagi deh ya, udah banyak yang nulis tentang sejarah-sejarahan Valentine, cukup googling aja ya.

Juga tentang pro-kontra Valentine. Ada yang ngomongin dari sudut pandang agama, budaya, norma, dll.. Silakan teman-teman punya sudut pandangnya masing-masing, yang pasti gw sendiri ngerasa aneh dengan yang namanya Valentine itu.. Iya, jelas aja aneh: Continue reading →

Kultur Orang Indonesia: Menyerobot Antrean

Assalamu’alaikum..

Menurut gw, ada satu kultur negatif bangsa ini yang harus diubah, kalo bangsa Indonesia mau maju.. Yaitu kultur menyerobot antrean!

Di jalan raya, sudah tahu sama tahu bahwa pengendara kendaran bermotor selalu mau terdepan.. Yang pengendara motor suka nyelip sana sini supaya bisa terus ada di depan.. Yang pengendara mobil juga gitu, klakson-klakson ga karuan saat ada yang menghalangi jalannya.

Tidak hanya itu, gw baru saja mengalami peristiwa tentang penyerobotan antrean itu.. Sama sekali bukan sebuah peristiwa besar, melainkan hanya peristiwa di warung tempat jual gorengan dan nasi uduk.

Begini cerita singkatnya:

  • Gw nyampe di warung jam 6.30an.. Ada 2 orang yang lagi ngantri (sebetulnya tidak tepat disebut antre, karena tidak ada yang posisinya di depan maupun dibelakang. Semuanya sejajar di depan warung), berarti menjadi 3 orang saat gw datang.
  • Orang pertama (sebut saja A, karena gw juga emang ga kenal, hehe..) selesai bertransaksi, dan keluar dari warung. Tinggallah mbak B, yang saya kenal yaitu PRT di rumah persis depan rumah saya, yang sedang bertransaksi.
  • Saat itu, datang satu orang lagi ibu-ibu, namanya C. Kalo posisiinya kaya gitu, berarti seharusnya gw yang dilayani oleh mbak penjaga warung setelah mbak B bukan?
  • Tapi dengarlah. Saat mbak B nyaris menyelesaikan transaksinya, ibu C langsung menanyakan tentang jualan di warung itu, “mbak Su (mbak Su adalah nama pemiliki warung itu), ada lontong ga?”.. Mbak Su pun menjawab ada..
  • Nah, inilah penyerobotan antrean yang pertama: setelah mbak B selesai bertransaksi, mbak Su pun langsung melayani ibu C.. Entah karena mbak Su tidak melihat saya datang lebih dulu di warungnya, atau karena ibu C lebih berisik ngomongin dagangannya.. FYI, saat ibu C nanya ada lontong atau tidak, saya langsung mengatakan bahwa saya ingin membeli 5 pisang goreng, 5 gemblong, 5 ketan, dan 5 misro (ini bukan buat gw makan sendiri, melainkan dimakan sekeluarga..).
  • Saat ibu C dilayani itu, datanglah ibu D, dan ibu D langsung bilang ke mbak Su kalo dia mau beli nasi uduk 2 bungkus dan langsung memilih gorengan yang mau dia beli dan menumpuknya di nampan.
  • Setelah ibu C selesai dilayani, mbak Su lagi-lagi langsung melayani ibu D..

Lihat, dua kali gw diserobot.. Gw tidak secara khusus menyalahkan mbak Su karena beliau pasti cukup kerepotan melayani pelanggan di warungnya sendirian (walaupun mbak Sulah penyebab penyerobotan antrean ini), atau menyalahkan ibu C dan ibu D.. Semuanya punya kadar kesalahan yang persis sama..

Akan tetapi,? karena ibu C dan ibu D langsung pergi setelah dilayani dan gw saat itu ga dalam kondisi siap untuk menegor langsung ibu C dan ibu D karena menyerobot antrean gw, gw pun menyampaikan masalah penyerobotan antrean ini ke mbak Su. “Mbak Su, gimana sih, masa saya diserobot dua kali begini? Saya kan juga buru-buru..” Mbak su hanya memohon maaf begitu saja..

Ya sudah lah, setelah membayar dan menerima gorengan yang gw pesen, gw pun langsung pergi dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih.. Gw bukan orang yang suka memperpanjang masalah, apalagi ini cuma masalah kecil..

Tapi dari ini gw makin sadar satu kultur buruk kebanyakan orang Indonesia, yaitu suka menyerobot antrean.

Donor Darah Lagi! Donor Darah Yuk..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Setelah empat bulan lalu mendonorkan darah saya, Alhamdulillah hari ini diberi kesempatan untuk donor darah lagi.. Dalam event yang sama seperti diberitakan di postingan saya terdahulu (yang ini nih), saat ini saya dapat giliran di awal-awal, tepatnya no. 6.

Berbeda dengan 4 bulan lalu, saat ini tekanan darah saya ternyata cukup jauh menurun. 4 bulan lalu tekanan darah saya 130/90 mmHg, sedangkan tadi diperiksa turun jadi 100/70. Entahlah kenapa bisa turun seperti ini. Mungkin karena sebulan belakangan ini (bahkan sampai beberapa bulan ke depan akan tetap dalam kondisi ini) saya banyak pikiran, sehingga berpengaruh terhadap tekanan darah. Do’akan dan bantu saya agar tetap sehat dan semangat ya!

Again,? seperti dulu, saya tetap merekomendasikan teman-teman semua untuk donor darah. Lupakan rasa sakit karena tertusuk jarum, karena hanya 2-3 detik saja terasanya. Sedangkan rasa bahagia dan senangnya karena sudah donor darah bisa berlangsung berjam-jam, bahkan berhari-hari seperti saya ini. Can’t wait for the next donor darah nih..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

17 Agustusan Pertama dan Terakhir: Silaturahim, Belut, dan Tilang Polisi

Apa arti 17 Agustusan untuk teman-teman? Bagi saya, 17 Agustusan itu memiliki satu arti penting: Silaturahim dengan tetangga. Bagi saya yang saban hari (Senin bahkan sampai Sabtu) ngampus (maksudnya pergi ke kampus) dan sangat jarang bersosialisasi dengan tetangga, rasanya tidak enak, kalau tidak dekat dengan tetangga. Sekedar info nih, saya hampir 15 tahun tinggal di rumah tempat orang tua saya tinggal sekarang. Tapi sayangnya, saya amat jarang bersosialisasi dan mengadakan kegiatan bersama tetangga. Bahkan saya yang (ngakunya) aktivis kampus, begitu masuk lingkungan rumah, berubah 180 derajat menjadi pasivis. Tidak ikut Remaja Masjidlah, tidak ikut Remaja RT, apalagi Karang Taruna.

Setelah bertahun-tahun (dari SD kelas 1 sampai kuliah tingkat 2) berada dalam kondisi pasif itu, akhirnya mendekati peringatan 17 Agustusan tahun 2006 yang lalu saya memutuskan untuk memulai aktif dan bersosialisasi dengan tetangga. Begitu ada ajakan dari Remaja RT untuk menjadi Panitia Perayaan 17-an tingkat RT, saya pun mengiyakan. Singkat kata, saya pun ikut menjadi Panitia Perayaan 17-an, dan mulai sibuk rapat, belanja sana-sini, dan lain-lain.

Sebetulnya saya sudah kenal dengan sebagian remaja RT, karena di antara mereka banyak yang sudah menjadi teman main saya sejak kecil. Tapi sejak menjadi dewasa (alah bahasanya : p), saya sudah disibukkan dengan aktivitas di sekolah, sehingga tidak dekat lagi dengan mereka. Saat sama-sama menjadi Panitia 17-an inilah, kedekatan kita kembali dirajut. Kita sangat-sangat kompak, bagaikan sahabat dekat. Saat persiapan sebelum hari-H lomba-lomba, kita sering rapat bareng, membuat bahan-bahan untuk lomba sampai larut malam, dan belanja-belanja. Setelah lomba-lomba 17-an selesai diadakan, kita makan es krim bareng, lalu malamnya main PS2 bareng-bareng di tengah jalan. Iya, benar-benar main PS2 di tengah jalan di komplek rumah saya! Benar-benar pengalaman berharga yang tak terlupa.

Satu pengalaman unik yang tak bisa saya lupakan adalah saat saya untuk pertama kalinya ditilang oleh polisi. Cerita singkatnya begini:

  • Untuk persiapan lomba menangkap belut pada tanggal 17 Agustus sore harinya, saya dan teman saya satu lagi ditugaskan mencari belut pada siang harinya.
  • Tempat yang kita perkirakan menjual belut adalah Pasar Kemiri, hanya 5 menit naik motor dari komplek rumah saya. Dekat sih, tapi jalan raya menuju pasar itu dipenuhi polisi yang siap menilang pengendara kendaraan yang tidak waspada.
  • Singkat cerita, ternyata belut-belut di pasar itu sudah habis terjual. Salah kita juga sih, datang ke sana siang-siang, dan pas pada tanggal 17nya lagi. Tahu sendiri, lomba menangkap belut kan masih jadi primadona.
  • Dengan hati sedikit menyesal, keluarlah kita dari Pasar Kemiri untuk kembali ke rumah, memberi tahu panitia yang lain bahwa belutnya tidak ada. Di sinilah cerita penilangan ini terjadi.
  • Karena sedikit kecewa tidak mendapat barang yang dimaksud, ditambah lagi dengan keinginan buru-buru pulang karena hari sudah cukup siang, saya tidak melihat rambu dilarang belok kanan di pintu keluar Pasar Kemiri. Jadi ceritanya kendaraan bermotor yang keluar Pasar Kemiri harus belok kiri dulu, lalu memutar, jika ingin belok kanan.
  • Ya sudah, ternyata sudah ada Pak Polisi yang memberi lambaian tangan, seolah-olah ingin berkata, “Sini Mas!”.
  • Dan singkat kata lagi, saya pun diberikan surat tilang dan pemberitahuan untuk datang sidang di Pengadilan Negeri Kota Depok seminggu setelahnya. Saya tidak ingin masuk neraka dan membuat Pak Polisi itu masuk neraka, sehingga saya tidak membayar uang damai. Biarlah repot-repot sedikit, yang penting jujur, dan malah enak toh disidang, dapat pengalaman baru.

Alhamdulillah, rangkaian acara Perayaan 17-an di RT saya berlalu dengan sukses. Saya pun sangat bahagia akhirnya bisa juga berkontribusi aktif di lingkungan saya.

Unfortunately, itulah pengalaman pertama sekaligus terakhir saya menjadi panitia Perayaan 17-an di RT saya. Pada Perayaan 17-an tahun 2007 ini, saya tidak dapat ikut berkontribusi, karena di kampus saya (Fakultas Ilmu Komputer UI, -red), saya diberi amanah untuk menjadi ketua panitia (Project Officer/PO) kegiatan Masa Bimbingan Pembinaan Mahasiswa Baru Fasilkom UI 2007. Karena perlu sangat fokus di kampus, saya pun tidak bisa ikut bantu-bantu di RT saya.

Kenapa saya bilang itu adalah pengalaman terakhir di RT saya? Insya Allah dalam akhir tahun ini atau awal tahun depan, orang tua saya memutuskan untuk pindah rumah ke daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Sekedar informasi, rumah orang tua saya sekarang ini sudah sangat tidak cukup untuk menampung kedua orang tua saya dan 4 orang anaknya yang sudah besar-besar sekaligus. Alhamdulillah orang tua ada rezeki lebih untuk membeli rumah baru yang sedikit lebih luas di Kebagusan.

Sayonara teman-teman, pengalaman seru menjadi Panitia Perayaan 17-an tingkat RT ini insya Allah tidak akan saya lupakan.

Cerdas, Berprestasi, Cetak Sejarah!

Teman-teman, mau tahu jalur ideal selama menjadi mahasiswa, dimana kita bisa mengoptimalkan diri kita, menjadi mahasiswa cerdas, aktif dan bermanfaat, sekaligus mencetak sejarah? Jadilah Mahasiswa Berprestasi (Mapres) fakultas, Mapres universitas, sekaligus menjadi pionir berdirinya sebuah lembaga yang sampai sekarang terus menghasilkan prestasi. Terasa berlebihan? Mungkin iya, mungkin juga tidak? Yang pasti, dosen kita yang bernama Hisar Maruli Manurung (Pak Ruli) telah membuktikannya. Menulis tentang topik ini, apakah berarti tulisan ini masuk kategori gosip? Silakan pembaca klasifikasikan sendiri, hehe..

Saya baru saja membaca Majalah UI (edisi 4 tahun 2007), di sana ada artikel tentang English Debating Society (EDS) UI. Sedikit info saja, EDS UI adalah salah satu di antara beberapa Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) yang berprestasi, hingga ke luar negeri. Kembali ke topik Pak Ruli tadi, ternyata artikel tersebut menyebutkan bahwa Pak Ruli adalah salah satu pendiri EDS UI pada tahun 1997, bersama-sama Permata Harahap (Fasilkom ‘93) dan Ahmad Sukarsono dari FISIP UI. Tidak hanya membentuk lembaga di tingkat UI, di tingkat fakultasnya, Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom), Pak Ruli juga salah satu pendiri ASCIIPella, kelompok paduan suara mahasiswa Fasilkom.

Hal lain yang tidak kalah mengejutkan saya pribadi adalah saat mengetahui dari sumber terpercaya (Rahmad Mahendra 2004, -red) bahwa Pak Ruli adalah Juara I Mapres Fasilkom (berarti dia Mapres Fasilkom), juga berhasil menjadi Mapres UI pada tahun yang sama! Cerdas, menjadi Mahasiswa Berprestasi, aktif di kegiatan kemahasiswaan (bahkan menjadi pendirinya!). Cerita tentang Pak Ruli tidak berhenti sampai di sini. Bahkan setelah lulus pun, Pak Ruli tidak mengambil S2. Beliau mengambil kuliah S3, dan berhasil mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Artificial Intelligent. Dari S1 langsung S3? Ternyata, hal ini sudah biasa di Eropa. Bagi mahasiswa yang pintar, cerdas, dan mengetahui bidang minatnya, dia bisa langsung mengambil S3.

Kembali lagi ke kisah luar biasa tentang Pak Ruli yang belum berhenti sampai di sini. Setelah lulus S3 Pak Ruli kembali ke Fasilkom dan menjadi dosen tetap, salah satunya menjadi dosen untuk mata kuliah Sistem Cerdas (SC) dan Struktur Data dan Algoritma (SDA). Karena gaya mengajarnya yang unik, cara membawakan kuliahnya juga menarik, ditambah lagi dengan wajahnya yang (kata beberapa wanita) cukup menarik, serta suaranya yang merdu, Pak Ruli menjadi salah satu dosen favorit mahasiswa.

Tulisan ini bukan mengisahkan kehidupan Pak Ruli. Tulisan ini mengajak kita untuk mencontoh langkah-langkah Pak Ruli, yang-menurut saya-sangat ideal untuk diteladani. Sebagai mahasiswa, kita harus bisa mengoptimalkan diri kita semaksimal mungkin. Gunakan waktu yang ada untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif, seperti belajar giat, aktif di kegiatan kemahasiswaan, dan menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain. Hilangkan (atau minimal kurangi) hal-hal yang tidak memiliki manfaat bagi kita. Tidak berhenti sampai di sini saja, Pak Ruli juga menunjukkan bahwa mahasiswa dapat juga mencetak sejarah manis.

Jadi teman-teman, siapa yang tidak ingin menjadi cerdas, berprestasi, serta mencetak sejarah? Saya mau, dan Insya Allah saya akan mencapainya.

Alhamdulillah, Fauzi Bowo Menang Pilkada DKI!

Ada apa dengan judul ini? Apakah iLm@N mendukung Fauzi Bowo sebagai gubernur DKI 2007-2012? Oh, tentu tidak. Saya pemegang resmi KTP Depok, sehingga walaupun sangat ingin mendukung salah satu calon gubernur DKI 2007, saya tidak berhak untuk itu. Lalu, ada apa gerangan dengan judul ini? Begini ceritanya:

Walaupun hasil Pilkada DKI Jakarta 2007 belum resmi diumumkan oleh KPUD DKI Jakarta, hasil hitung cepat (quick count) yang dilakukan berbagai lembaga survey seperti Lingkaran Survey Indonesia (LSI), Lembaga Survey Indonesia (LSI), Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Startegis (Puskaptis), Pusat Kajian Politik (Puskapol) UI, bahkan oleh real count Tim Adang-Dani Center, menunjukkan bahwa pasangan nomor 2 Fauzi Bowo - Prijanto lebih unggul dibandingkan pasangan nomor 1 Adang Daradjatun - Dani Anwar. Bisa dipastikan, Fauzi Bowo - Prijanto-lah yang akan memegang amanah sebagai gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012. Bahkan, Fauzi Bowo sudah bersyukur dan yakin atas kemenangan dirinya ini.[1]

Lalu, kenapa saya bersyukur Fauzi Bowo yang menang? Jawabannya adalah, karena Adang Daradjatun - Dani Anwar dan partai yang mengusungnya, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS),? legowo, bersyukur, dan menerima kekalahan ini[2] [3]. Asalkan tidak ada kecurangan-kecurangan yang signifikan berpengaruh dalam Pilkada DKI Jakarta ini, saya yakin PKS akan bersikap dewasa dengan menerima kekalahan ini, tidak ambisius dan haus akan kekuasaan. Satu partai saja tentu mudah bersikap legowo dan menerima kekalahan. Bagaimana jika 20 partai? Mudahkah mereka legowo dan menerima kekalahan seperti yang dilakukan PKS dan Adang - Dani? Itulah alasan utama mengapa saya bersyukur.
Saya khawatir, kejadiannya seperti yang terjadi setelah Pilkada Depok 2005? Sampai saat ini, Partai Golkar yang mengusung Badrul Kamal (mantan walikota Depok sebelumnya yang kalah oleh Nurmahmudi Ismail, walikota terpilih 2005-2010, calon dari PKS), disinyalir masih tidak terima dengan hasil Pilkada Depook 2005 dan menggunakan segala cara untuk menghambat kinerja walikota Depok terpilih. [disclaimer: Paragraf ini sepenuhnya berisi pendapat pribadi saya setelah membaca berbagai berita di media tentang kondisi politik di Depok. Saya tidak menemukan tautan berita yang isinya persis sama dengan kesimpulan saya ini.]

Jangan sampai, kota Jakarta yang sama-sama kita cintai ini, terhambat pembangunannya dan tidak selesai masalah-masalahnya, karena elite-elite politik di legislatif dan eksekutif sibuk bersaing memperebutkan kekuasaan. Sibuk meng-klaim dirinyalah yang seharusnya menang di Pilkada DKI Jakarta 2007 ini. Padahal, Jakarta memang harus terus berubah menjadi lebih baik, menata dirinya untuk menjadi kota internasional. Persoalan DKI Jakarta jauuuh lebih besar dibandingkan persoalan pemenang Pilkada DKI Jakarta 2007. Ayo, Benahi Jakarta untuk Semua!

Tautan

Ayo, Siap-siap Sambut Pilkada DKI 2007!

Assalamu’alaikum wr. wb..

Buat warga Jakarta, ingat-ingat, hari Rabu 8 Agustus 2007 besok, ada pesta demokrasi terbesar di DKI Jakarta. Apalagi kalau bukan Pilkada DKI Jakarta? Meskipun saya bukan warga DKI Jakarta, tapi boleh dong, ikut-ikutan menulis tentang ini. Meskipun juga, teman-teman pengunjung ini lebih banyak yang berasal dari Depok.

Saya sudah membuat polling baru tentang ini, ada di sidebar sebelah kiri blog ini. Ayo semuanya rame-rame mengisi? polling itu!

Oh iya, ini beberapa hal menarik seputar Pilkada DKI 2007:

  • Sepenglihatan saya di TV (karena tidak terlalu suka nonton TV), iklan Fauzi Bowo di televisi jauh lebih banyak dibandingkan iklan Adang Daradjatun. Iklannya pun bervariasi: Ada yang versi nyanyi, ada yang iklan ibu-ibu ngomongin kumis, ada yang keluarga Si Doel, dan lain-lain. Sepenglihatan saya juga, iklan Adang Daradjatun hanya ada yang satu versi: Versi keluarga Bajaj Bajuri (tolong ditambahkan kalau ternyata kurang).
  • Dua serial TV bertema betawi paling terkenal di masanya, yaitu Si Doel Anak Sekolahan dan Bajaj Bajuri, masing-masing mendukung setiap calon. Keluarga Bajuri mendukung Adang Daradjatun, keluarga si Doel mendukung Fauzi Bowo. Oh iya, Mat Solar menjadi sopir bajajnya Adang saat arak-arakan menuju gedung DPRD pada hari pertama kampanye.
  • Iklan Fauzi Bowo tentang “Coblos kumisnya” mengingatkan saya pada Pemilu Presiden 2004 lalu. Seingat saya, saat itu salah satu iklan kampanye Megawati mengatakan “Coblos yang cantik”, atau “Coblos yang ada tahi lalatnya”. Seingat saya juga, model kampanye itu dikritik di opini di salah satu koran, mengatakan bahwa model kampanye itu tidak mendidik.
  • Adang dan Foke (juga pasangannya) tidak pernah satu kalipun tampil bersama dalam kegiatan yang diadakan masyarakat, selain pas kampanye hari pertama di gedung DPRD. Kita lihat satu-satu:
    • Saat verifikasi dan pengambilan nomer urut pemilihan, yang hadir saat itu hanyalah Fauzi Bowo. Adang tidak hadir.
    • Saat debat publik Pilkada DKI yang diselenggarakan oleh BEM UI beberapa minggu lalu, yang hadir hanya Adang. Fauzi Bowo tidak hadir.
    • Yang masih belum diadakan, adalah Debat Publik oleh Metro TV (acara Today’s Dialogue). Tanggal tepatnya saya lupa. Apakah Adang-Fauzi akan hadir lengkap untuk berdebat di hadapan masyarakat luas? Tunggu tanggal mainnya
  • Hasil survey LSI (Lingkaran Survey Indonesia) yang ditampilkan di koran Republika hari ini (Kamis 2 Agustus 2007, -red) menunjukkan bahwa Foke - Prijanto lebih unggul daripada Adang - Dani. Prediksi mereka untuk pemenang Pilkada DKI besok adalah juga Foke - Prijanto
  • Menurut berita di Republika, juga di hari ini, spanduk-spanduk kampanye Adang maupun Foke bisa dibilang saling meledek, dan tidak mendidik. Spanduk Foke mengatakan “Jakarta Bukan Milik Satu Partai“, dan spanduk Adang mengatakan “Banyak Partai = Banyak Kepentingan = Banyak Tagihan… Oo Seram![1]. Seru melihatnya!
  • Presentase pelanggaran kampanye sampai saat ini oleh kedua calon relatif berimbang: Adang 49%, Foke 51% [2]. Kok mirip ball possesion di sepak bola ya? Saya sendiri memprediksi Foke seharusnya punya pelanggaran lebih banyak, karena partai yang mendukung dan massanya lebih banyak, sehingga yang melanggar lebih banyak. Ternyata saya salah.
  • Dengan didukung 1 partai yang merupakan partai pemenang Pemilu Legislatif 2004 di DKI Jakarta, yaitu Partai Keadilan Sejahtera, rasanya Adang Daradjatun boleh dikatakan sebagai Koalisi Rakyat. Sedangkan Fauzi Bowo yang didukung oleh 20 partai, besar dan kecil, boleh juga dikatakan sebagai Koalisi Partai. Mana yang menang ya?

Pilkada DKI tinggal 6 hari lagi, siap-siap ya semuanya! Plis, jangan golput! Saat saya berkunjung ke rumahnya, Pak Nukman mengatakan bahwa masyarakat yang golput berarti membiarkan keburukan berlangsung terus, karena tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki Jakarta. Walaupun menganggap semua calon tidak ada yang bersih dan bagus, tidak memilih berarti membiarkan calon yang paling tidak bersih maju menjadi gubernur. Walaupun semua calon tidak ada yang sempurna, bukankah lebih baik memilih yang lebih sedikit kejelekannya?

Oke, jadi pilihlah no. 1 atau no. 2 ya…

Tautan

[1] KIPP Cermati Kampanye ‘tak Mendidik’

[2] KIPP: Pelanggaran Kampanye Kubu Fauzi 51%, Adang 49%

Website kampanye resmi Adang Daradjatun - Dani Anwar

Website kampanye resmi Fauzi Bowo - Prijanto?

Wassalamu’alaikum wr. wb..